Jadi Siswa SMA (lagi)

Suasana pagi itu sangat cerah, matahari dengan sangat jantan menampakkan sinarnya demi mendukung aktivitas para manusia. Tanpa memerdulikan matahari, aku bergegas mempercepat jalanku agar sampai ke sekolahku. Seperti biasa, aku memakai baju putih abu-abu lengkap dengan pecinya. Suasana yang sangat akan kurindukan selamanya, kembali ke masa MA.

Sampailah diriku di sebuah outlet (konter) hape yang berdiri tak jauh dari gedung SMA. Tak ku sangka di sana telah menunggu salah satu dari 27 teman terbaikku di MA, Angga. Tanpa permisi, aku masuk dan menyalaminya. Sungguh kebahagiaan tak terduga bertemu dengan kawan terbaikku. Ternyata dia adalah enterpreneur muda dengan menjual pernak-pernik hape. Keren.

Setelah berbincang cukup lama dengan Angga, aku duduk di sebuah bangku depan meja kerjanya. Aku duduk di samping segerombol orang yang nampaknya telah lama kukenali. Oh, ternyata mereka adalah teman-teman waktu MI ku dulu. Aku pun makin betah berlama-lama tinggal dan melepas kerinduan di outlet yang berada di pojok pertigaan itu.

Di tengah-tengah perbincangan, ku lihat ada banyak orang menyeberang jalan depan outlet. Ada dua perempuan mendekat ke outlet yang kami singgahi ini. Salah satu dari mereka sepertinya sangat jelas. Oh, dia adalah Rosida yang sedang bergandengan erat dengan seorang perempuan yang aku sedikit samar wajahnya karena terhalang oleh kendaraan yang lewat. Dia ternyata mbak Uswah, saudara perempuanku. Hari ini, aku bahagia bisa melihat mereka lagi. Begitu juga dengan sang matahari.

“Mbak, kalo masuk nanti aku disms ya”, pintaku malas,”beres mam” jawab Rosida. “Kita duluan ya”, mbak Uswah meneruskan jawaban. Lantas, keduanya melanjutkan perjalanan yang tak jauh lagi. Aneh memang, padahal sekolah melarang kami membawa hape begitu juga dengan aku yang tak pernah membawa hape. Aku berbincang lagi dengan teman-temanku yang ada di outlet.

Tak lama setelah itu, hape ku berdering. Sebuah pesan singkat masuk ke hapeku. “ayo masuk, dah dtunggu pak Hamid”, kubaca sms itu. Setelah pamitan dengan kawan-kawan SD, aku dan Angga bergegas menuju SMA. Sampailah kami di ruangan yang telah dipenuhi orang-orang yang sangat tak asing bagiku. Subhanallah, mereka adalah Immersion Groupers yang tak lain adalah semua kawan-kawan terbaikku. Mereka menatapku, memberi senyuman padaku dan menyuruhku untuk segera bergabung. Aku menuruti apa yang mereka pinta dan tidak lama aku juga tenggelam dala euforia yang begitu hebat dan tak pernah kuduga.

Dari dalam ruang, terdengar suara ketukan pintu. Tanpa mengucapkan salam, seseorang masuk ke ruangan yang sedang kutempati dengan sangat nyaman ini. Aku menoleh, dan ternyata dia adalah… Ibu kos membangunkanku dan teman-teman kosku yang telah tergeletak bagai mayat sejak tadi malam, untuk melaksanakan perintah Tuhan. Sholat Shubuh… tak kukira, ternyata pertemuanku dengan 27 kawan terbaikku hanyalah sebatas mimpi. Aku pun terbangun, seiring terbangunnya matahari… kesiangan deh…

Aku merindukanmu kawan-kawan…

Pare, 7 Januari 2010 pukul 5:47

 

saat-saat terindah, saat masih bersamamu

Waktu kita bersama dan mewarnai dunia

Semua yang telah berlalu, kini teringat lagi, kini terlihat  lagi…

Ku ingin kembali…

 

Suasana pagi itu sangat cerah, matahari dengan sangat jantan menampakkan sinarnya demi mendukung aktivitas para manusia. Tanpa memerdulikan matahari, aku bergegas mempercepat jalanku agar sampai ke sekolahku. Seperti biasa, aku memakai baju putih abu-abu lengkap dengan pecinya. Suasana yang sangat akan kurindukan selamanya, kembali ke masa MA.
Sampailah diriku di sebuah outlet (konter) hape yang berdiri tak jauh dari gedung SMA. Tak ku sangka di sana telah menunggu salah satu dari 27 teman terbaikku di MA, Angga. Tanpa permisi, aku masuk dan menyalaminya. Sungguh kebahagiaan tak terduga bertemu dengan kawan terbaikku. Ternyata dia adalah enterpreneur muda dengan menjual pernak-pernik hape. Keren.
Setelah berbincang cukup lama dengan Angga, aku duduk di sebuah bangku depan meja kerjanya. Aku duduk di samping segerombol orang yang nampaknya telah lama kukenali. Oh, ternyata mereka adalah teman-teman waktu MI ku dulu. Aku pun makin betah berlama-lama tinggal dan melepas kerinduan di outlet yang berada di pojok pertigaan itu.
Di tengah-tengah perbincangan, ku lihat ada banyak orang menyeberang jalan depan outlet. Ada dua perempuan mendekat ke outlet yang kami singgahi ini. Salah satu dari mereka sepertinya sangat jelas. Oh, dia adalah Rosida yang sedang bergandengan erat dengan seorang perempuan yang aku sedikit samar wajahnya karena terhalang oleh kendaraan yang lewat. Dia ternyata mbak Uswah, saudara perempuanku. Hari ini, aku bahagia bisa melihat mereka lagi. Begitu juga dengan sang matahari.
“Mbak, kalo masuk nanti aku disms ya”, pintaku malas,”beres mam” jawab Rosida. “Kita duluan ya”, mbak Uswah meneruskan jawaban. Lantas, keduanya melanjutkan perjalanan yang tak jauh lagi. Aneh memang, padahal sekolah melarang kami membawa hape begitu juga dengan aku yang tak pernah membawa hape. Aku berbincang lagi dengan teman-temanku yang ada di outlet.
Tak lama setelah itu, hape ku berdering. Sebuah pesan singkat masuk ke hapeku. “ayo masuk, dah dtunggu pak Hamid”, kubaca sms itu. Setelah pamitan dengan kawan-kawan SD, aku dan Angga bergegas menuju SMA. Sampailah kami di ruangan yang telah dipenuhi orang-orang yang sangat tak asing bagiku. Subhanallah, mereka adalah Immersion Groupers yang tak lain adalah semua kawan-kawan terbaikku. Mereka menatapku, memberi senyuman padaku dan menyuruhku untuk segera bergabung. Aku menuruti apa yang mereka pinta dan tidak lama aku juga tenggelam dala euforia yang begitu hebat dan tak pernah kuduga.
Dari dalam ruang, terdengar suara ketukan pintu. Tanpa mengucapkan salam, seseorang masuk ke ruangan yang sedang kutempati dengan sangat nyaman ini. Aku menoleh, dan ternyata dia adalah… Ibu kos membangunkanku dan teman-teman kosku yang telah tergeletak bagai mayat sejak tadi malam, untuk melaksanakan perintah Tuhan. Sholat Shubuh… tak kukira, ternyata pertemuanku dengan 27 kawan terbaikku hanyalah sebatas mimpi. Aku pun terbangun, seiring terbangunnya matahari… 
Aku merindukanmu kawan-kawan…
Pare, 7 Januari 2010 pukul 5:47 

4 pemikiran pada “Jadi Siswa SMA (lagi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s