Pengalamanku: Polisi dan Sumpah Palsunya

Tercatat pada tanggal 22 April 2011 atau satu hari setelah perayaan hari kartini dan bertepatan dengan perayaan paskah bagi umat kristiani, terjadi satu hal baru dalam hidupku. kejadian yang tak akan kulupakan sepanjang hidupku.

hari itu, secera kebetulan saat perjalanan pulang ke jepara aku ditangkap oleh seorang polisi. polisi itu berkulit sawo matang versi afrika, berbadan tegap, dan perut agak membuncit. dengan gagahnya si polisi memberhentikanku saat hampir sampai di sebuah traffic lamp, tepatnya di lampu merah-kuning-hijau Hanoman Semarang.

“Selamat pagi Bapak”, sapa si polisi,”bisa liat SIM dan STNK”.

“ada apa ini pak?”, tanyaku memperjelas

“anda telah melanggar rambu lalu lintas”,jawab si polisi item yg kyk kmaluan monyet

“bukannya tadi lampu msh hijau, dan saya punya saksi teman belakang saya ini?” aku mengelak

“ikut saya ke posko, nanti jelaskan pada komandan!”, bentaknya sambil merampas sim dan stnk yang ku baru saja kuambil dari dompet, dan melenggang begitu saja…

“sialan”, umpatku

terpaksa aku harus kembali ke posko pertigaan krapyak, tempat dimana aku dituduh melakukan pelanggaran hukum lalu lintas. lalu mengadap komandan yang semula sangat tidak respek padaku.

di ruang komandan yang berada tepat di dalam posko, sebesar kandang wedus, dan sebersih WC among jiwo (panti rehabilitasi orang gila), terdapat tiga polisi. dua polisi keluar, dan tinggal satu yang berkumis menyuruhku duduk dan menjelaskan tindakanku sambil memamerkan SIM dan STNK tawanan pasukannya tadi.

aku dan polisi berdebat cukup alot. banyak hal yang tidak aku sukai, salah satunya tentang saranku untuk memasang traffic number di setiap lampu lalu lintas. namun si polisi tetap saja cari alasan, tentang inilah, tentang itulah, menurut pengamatan inilah,itulah,halah mbohh…intinya saranku direspon negatif, sekaligus tak ditampung. polisi macam apa ini, apa polisi itu raja? ini negara demokrasi pak!

kembali ke masalahku, ada tiga tawaran atas penegakan hukum terhadap tindakanku. pertama, aku ditilang dan dibuatkan surat tilang dan sidang pada 13 Mei (busyett,lama banget…ini motor ma stnk kan pinjem temen). kedua, melalui transaksi online bank BRI, maksudnya urusan beralih ke denda dengan membayar ke BRI sebesar denda maksimal (denda maksimal untuk pelanggaran sepertiku adalah 500rb,gila…ni denda apa malak orang??)

dan yang terakhir, adalah caranya para koruptor dan penyuap. si komandan polisi yang berkumis menawari cara itu dengan istilah “titip”. aneh sekali, ternyata seperti ini ya sebab perut para polisi buncit…semula harga “titip” berkisar 40-60 ribu. namun tak beberapa lama kemudian harga dipatok 60rb…

aku yang memang notabene miskin dan dana beasiswa belum cair, menjelaskan diriku pada si komandan apa adanya. sambil menegaskan bahwa aku tadi tidak melewati lampu merah

“anda muslim kan? anda jg mahasiswa perguruan tinggi islam” tanyanya padaku sambil membaca SIM ku

“Nggeh pak”, jawabku singkat

“jika anda memang benar, dan yakin tadi tidak melewati lampu merah..beranikah anda sumpah pada al Qur’an?? jika anda berani ANDA BEBAS” tantang komandan

untuk apa sumpah pada al Qur’an? sumpah langsung pada yang buat al Qur’an aja aku berani,,memang susah kalo ditantang soal agama oleh orang yang tak paham dengan agama. lucunya, masalah hukum negara koq dikait-kaitkan dengan agama, dasar negara kita kan jelas bukan al Qur’an tetapi UUD dan Pancasila yang teradapat nilai Qur’ani-nya

“saya berani, saya yakin bahwa saya tak melangga. silahkan, kalau bapak mau menyumpah saya jika bapak berani. saya berani”,tantang ku balik

“benarrrkaaahh??dulu ada orang sumpah seperti anda dan akibatnya mengalami kecelakaan karena melanggar sumpahnya??”, komandan itu sepertinya tercengang melihat ketidakgentaranku

“iya, saya berani, karena saya tidak melanggar…” aku meyakinkan

“anak buah saya yang menangkap anda juga bisa bersumpah seperti anda…”, sepertinya komandan mencari dukungan anak buahnya

“silahkan..” jawabku

beberapa kali komandan polisi tertegun melihat keteguhanku dan akhirnya mengalihkan pembicaraan

“begini saja mas, anggap saja kita sama2 tak tahu menahu. jadi lebih baik anda menerima surat tilang saja”. komandan mulai menyerah

“tidak pak”, jawabku singkat

“atau anda titip saja? nanti cukup bayar 40rb saja..”

bukan nominal uangnya yang membuat aku kecewa. namun ketidakkonsistensian dari polisi itu yang membuat aku geram…

“apa rakyat tidak semakin menderita jika wajah penegak hukum di Indo. seperti ini”, gumamku

karena bertepatan hari jum’at dan harus melaksanakan sholat jum’at. aku pun ambil pilihan ketiga yaitu caranya para koruptor dan penyuap,ku serahkan 4 lembaran uang 10rb. sembari meminta nota atau tanda bukti transaksi.

oleh komandan permintaanku ditolak. alasannya memang di prosedur tidak ada. aku semakin yakin, uangku ini akan bukan untuk negara namun masuk ke perut komandan dan para antek2nya.

Ya Allah, ampunilah dosaku ini yang telah terlewati,yang sedang kujalani, dan yang akan terjadi. sungguh, Engkau adalah satu2nya pengampun dosa dan pengabul doa.

Amin

2 pemikiran pada “Pengalamanku: Polisi dan Sumpah Palsunya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s